KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT, karena berkat Rahmat dan Hidayah-Nya lah sehingga makalah yang berjudul “Bahasa dan Jenis Kelamin” ini dapat kami selesaikan dengan tepat waktu.
Terima kasih yang sebesar-besarnya penulis ucapkan kepada dosen pembimbing mata kuliah Sosiolingustik yang telah membimbing kami dalam mata kuliah ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu, kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat kami harapkan dari semua pihak demi kesempurnaan makalah kami berikutnya. Penulis juga berharap agar apa yang penulis buat ini dapat berguna bagi pembaca khususnya dan masyarakat pada umumnya.
Makassar, 09 Oktober 2010
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR …………………………… i
DAFTAR ISI …………………………………... ii
BAB I . PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG ………………. 1
B. RUMUSAN MASALAH ……………. 2
C. TUJUAN ……………………………. 2
D. MANFAAT …………………………. 2
BAB II. PEMBAHASAN
A. TINDAK TUTUR WANITA
DAN PRIA ..……… 3
B. PERBEDAAN TINDAK TUTUR
WANITA DENGAN PRIA ……… 4
BAB III PENUTUP
A. KESIMPULAN …………………………. 13
B. SARAN …………………………………. 14
DAFTAR PUSTAKA ..………………………….. 15
LAMPIRAN
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hubungan yang ada dalam masyarakat antara perbedaaan-perbedaan sosial dan bahasa, dan bentuk-bentuk bahasa itu pada masing-masing golongan sosial. Dua perbedaan yaitu kelas sosisl dan kelompok etnik. Pengaruh kedua faktor berbeda terhadap bahasa itu memiliki garis yang sejajar dengan faktor pembeda geografis. Jika dialek geografis dibatasi oleh rintangan alam, dialek sosial dibatasi oleh rintangan sosial (social barrier); kalau dua dialek regional dipisahkan oleh jarak geografis. Dua dialek sosial terjadi karena ada jarak sosial. Baik kelompok yang bersifat sosial maupun gteografis mempunyai ciri-ciri kebahasaan umum kalangan mereka karena anggota-anggota kelompok sering berkomunikasi dengan anggota kelompoknya dengan menggunakan ragam bahasa dengan ciri tersebut, tetapi jarang untuk anggota lainnya.
B. Rumusan Masalah
1. Mengapa tutur wanita dan pria tidak sama.
2. Hal-hal apa yang menyebabkan tutur pria dan wanita berbeda.
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui tindak tutur pria dan wanita
2. Untuk mengetahui penyebab perbedaan tindak tutur pria dan wanita.
D. Manfaat
Kita dapat mengetahui perbedaan tindak tutur pria dan wanita dan hal-hal apa yang menjadi penyebabnya.
BAB II
PEMBAHASAN
1. Tindak Tutur Wanita dengan Pria
Tidak tutur wanita memang berbeda dengan pria, Mulgtamiah dan Basuki mengutip beberapa pandangan para pakar dialektologi “tradisional” tentang wanita yang akan dijadikan informan. Itu Wanita cenderung yang mempunyai sikap “hiperkolek” sehingga dianggap mengaburkan situasi yang sebenarnya dikehendaki oleh para peneliti. Karena mereka dianggap warga Negara “kelas dua” seperti itu mereka menghadirkan emansipasi.
Karena posisi seperti itu wanita berusaha keras dengan segala cara untuk “meningkatkan” dirinya sederajat dengan laki-laki dan salah satu cara yang efektif adalah dengan memahami bahasa ragam baku sebaik-baiknya, karena ragam baku mempunyai konotasi terpelajar, berstatus, berkualitas, kompoten, independen, dan kuat.
Samarin (1967) menyatakan: “lebih bijaksana kalau seorang peneliti pertama-tama bekerja dengan informan wanita jika pertanyaannya menyangkut urusan rumah atau hal-hal yang menyangkut kewanitaan.
2. Perbedaan Tindak Tutur Wanita dengan Pria
a. Gerak Anggota Badan dan Ekspresi Wajah
Perbedaan pria dengan wanita itu mungkin tidak langsung menyangkut masalah bahasa atau strukturnya, melainkan hal-hal yang membarengi tutur. Hal-hal lain yang membarengi itu adalah gerak anggota badan (gesture) dan ekspresi wajah.
b. Suara dan Intonasi
Banyak orang yang bisa mengenal suara pria atau wanita, karena secara umum bisa dikatakan volume suara pria relatif lebih besar daripada wanita. Dalam dunia seni suara kita kenal golongan suara pria dan wanita. Pada wanita misalnya, ada suara alto dan sopran, pada pria ada suara tenor dan bass. Semua ini tentu berhubungan dengan organ-organ tubuh penghasil suara. Kita juga bisa merasakan dalam hal bicara, setidaknya terlihat pada beberapa suku di Indonesia, suara wanita lebih lembut dibandingkan dengan suara pria. Hal ini sedikit banyak berkaitan dengan nilai sosial (social value) atau tata krama dan sopan santun yang terdapat pada orang itu.
c. Fonem sebagai ciri pembeda
Kanak-kanak Dewasa Tua
P : / tz / , / dz / / tj / , / dj / / cj / , / jj /
W : / tz / , / dz / / tz / , / dz / / cj / , / jj /
d. Kasus Hindia Barat
Ketika orang-orang Eropa pertama kali tiba di kepulauan Antillen Kecil, Hindia Barat dan mengadakan kontak dengan orang Indian Karibia. Mereka menemukan pria dan wanita menggunakan bahasa yang berbeda, pengamatan selanjutnya menunjukkan sebenarnya mereka itu bukan menggunakan bahasa yang berbeda, melainkan hanya ragam yang berbeda dalam satu bahasa dan itupun hanya menyangkut kosakata dalam frase.
e. Teori Tabu
f. Teori sistem kekerabatan
Bahasa Chiqiuto, bahasa Indian Amerika di Bolivia, bila seorang wanita ingin mengatakan kakak saya laki-laki, ia mengetakan icibausi, sedangkan pria mengatakan tsaruki. Perbedaan kosakata ini jelas bukan karena masalah tabu, melainkan akibat dari sistem kekerabatan dan sistem jenis kelamin. Perbedaan kata itu di dasarkan atas jenis kelamin penutur atau orang yang menyapa. Cara ini di temukan pada hubungan lain, misalnya :
Penutur Pria Penutur Wanita
‘ayah saya’ ijai isupu
‘ibu saya’ ipaki ipapa
Perbedaan ini bertolak belakang dengan yang ada dalam Bahasa Indonesia, perbedaan didasarkan pada orang yang disapa atau yang disebut, bukan kepada orang bertutur. Kata paman atau bibi mengacu pada jenis kelamin yang berbeda dari orang yang kita sapa.
g. Konservatif dan Inovatif
Ada situasi yang menarik dalam perbedaan ragam tutur pria dan wanita yang tidak bisa dijelaskan dengan teori tabu. Situasi itu adalah yang terdapat dalam bahasa Koasati, suatu bahasa Indian Amerika. Perbedaan ragam ini melibatkan fonologi dan bentuk-bentuk kata ganti persona. Contohnya :
Makna Pria Wanita
‘dia sedang berkata’ / ka:s / / ka: /
‘itu jangan diangkat’ / lakauci:s / / lakaucin /
h. Sikap Sosial dan Kejantanan
Berdasarkan hasil survei telah dinyatakan bahwa perhitungan faktor kelas sosial, etnik dan umur para wanita secara konsekuen menggunakan bentuk-bentuk yang lebih mendekati bentuk-bentuk ragam baku atau logat dengan prestise tinggi dibandingkan dengan bentuk-bentuk yang digunakan pria. Dengan kata lain, para wanita Inggris (yang modern) seperti halnya wanita Koasati (yang modern) menggunakan bentuk-bentuk yang dianggap lebih baik daripada yang digunakan pria.
Keragaman bahasa berdasarkan jenis kelamin timbul karena bahasa sebagai gejala sosial erat hubungannya dengan sikap sosial. Secara sosial pria dan wanita berperan karena masyarakat menentukan peranan sosial yang berbeda.
i. Prestise Tersembunyi
j. Wanita Sebagai Pelopor Perubahan
Tutur wanita dalam masyarakat Koasati terutama pada masyarakat Chuckhi lebih konservatif daripada pria. Artinya, perubahan bahasa dipelopori oleh pria. Akan tetapi, jika terdepat sejenis ragam bahasa berstatus tinggi atau bernorma nasional (bukan regional, bukan dialek), perubahan kearah norma ini lebih sering dipelopori oleh wanita. Menurut anggapan orang, hal ini terjadi karena pentingnya ketepatan dan kebenaran.
k. Penelitian di Indonesia
Sikap wanita yang mendua sejalan dengan dugaan Elyan dkk. (1988) wanita bersifat androgin (mendua). Menurut Elyan, wanita-wanita di kota-kota besar cenderung mendua; mereka juga ingin maju dan kuat (perkasa) seperti pria, tetapi juga tidak mau kehilangan kefeminiman.
l. Ragam Bahasa Waria dan Gay
Contoh : A1:
Banci : siban
Lanang ‘laki-laki’ : silan
Payu ‘laku’ : sipa
Contoh : A2a:
Banci : bencong
Homo : hemong
Contoh : A2b:
Banci : bences
Homo : hemes
Tentang jenis B dapat dikatakan, jenis itu sangat berubah-ubah dan sulit dicari kaidahnya. Wujud bahasa ini hampir serupa dengan bahasa remaja.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas maka dapat diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Aspek pembeda kebahasaan yang tidak selalu ada dalam bahasa adalah jenis kelamin.
2. Aspek-aspek yang membedakan bahasa antara pria dan wanita, antara lain :
a. Gerak Anggota Badan dan Ekspresi Wajah
b. Suara dan Intonasi
c. Fonem sebagai ciri pembeda
d. Kasus Hindia Belanda
e. Teori Tabu
f. Teori Sistem Kekerabatan
g. Konservatif dan Inovatif
h. Sikap Sosial Kejantanan
i. Prestise Tersembunyi
j. Wanita sebagai pelopor perubahan
k. Penelitiaan di Indonesia
l. Ragam Bahasa Waria dan Gay
B. Saran
Diharapkan setelah membaca makalah ini, pembaca dapat memahami dengan baik perbedaan tindak tutur pria dan wanita dan hal-hal apa yang menjadi penyebabnya. Sehingga nantinya dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
DAFTAR PUSTAKA
Sumarsono & Partana, Paina. 2002. Sosiolingusitik. Yogyakarta: Sabda.
Saleh, Muhammad & Mahmudah. 2006. Sosiolinguistik. Makassar: Badan Penerbit UNM.
LAMPIRAN
Berita Acara
Pertemuan I
Topik : Pembagian tugas pada masing-masing anggota kelompok untuk mencari meteri yang akan dibahas nantinya.
Hari / Tanggal : Jumat, 9 Oktober 2010
Waktu : 10.00 - 12.30 Wita
Tempat : Kampus FBS (Sekretariat Aspirasi)
Hasil diskusi : Materi yang sudah ada dikumpulkan dan diketik, tapi belum dirampungkan.
| No | Nama | Nim | Ttd | Ket |
| 1 | A.Nurmiyanti Halik | 095104003 | | Kemeja Biru, Rok Putih, Jilbab Biru |
| 2 | Imam Shidiq Laewe | 095104015 | | Kemeja Biru, Celana Putih kebiruan, Sepatu Putih |
| 3 | Miranda S | 095104017 | | Kemeja Putih Garis Coklat, Rok Merah Jambu dan Sepatu Hitam |
| 4 | Maryam Rajab | | | Kemeja Merah, Jilbab Merah, Rok Hitam dan Sepatu Hitam |
LAMPIRAN
Berita Acara
Pertemuan II
Topik : Pembagian tugas pada masing-masing anggota kelompok untuk mencari meteri yang akan dibahas nantinya.
Hari / Tanggal : Sabtu, 10 Oktober 2010
Waktu : 11.30 - 14.00 Wita
Tempat : Kampus FBS (Sekretariat Aspirasi)
Hasil diskusi : Semua materi selesai diketik, tapi belum dirampungkan dan diatur (edit).
| No | Nama | Nim | Ttd | Ket |
| 1 | A.Nurmiyanti Halik | 095104003 | | Baju Kuning, Jilbab Kuning, Celana Abu-Abu dan Sepatu Hitam |
| 2 | Imam Shidiq Laewe | 095104015 | | Kemeja Putih Bergaris Biru, Celana Abu-Abu, dan Sepatu Putih |
| 3 | Miranda S | 095104017 | | Kemeja Hitam, Celana Biru, Jilbab Biru, dan Sepatu Hitam |
| 4 | Maryam Rajab | 095104035 | | Baju Biru, Jilbab Biru, Celana Abu-abu, dan Sepatu Hitam |
LAMPIRAN
Berita Acara
Pertemuan III
Topik : Pembagian tugas pada masing-masing anggota kelompok untuk mencari meteri yang akan dibahas nantinya.
Hari / Tanggal : Senin, 11 Oktober 2010
Waktu : 11.00 - 13.00 Wita
Tempat : Pelataran Gedung DG
Hasil diskusi : Makalah sudah selesai dijilid dan sudah rapi
| No | Nama | Nim | Ttd | Ket |
| 1 | A.Nurmiyanti Halik | 095104003 | | Kemeja Putih, Rok Hitam, Jilbab Putih dan Sepatu Hitam |
| 2 | Imam Shidiq Laewe | 095104015 | | Kemeja Hitam, Celana Abu-Abu dan Sepatu Putih |
| 3 | Miranda S | 095104017 | | Kemeja Hitam, Jilbab Putih, Rok Putih dan Sepatu Putih |
| 4 | Maryam Rajab | 095104035 | | Kemeja merah Jambu, Jilbab Hitam, Rok Hitam, dan Sepatu Hitam. |